Aug 31

Manfaatin Kartu Kredit Mandiri SKYZ buat Masuk Lounge Bandara

       Berhubung liburan 15-17 Agustus kemarin saya dan segerombolan teman memutuskan untuk jalan-jalan ke padang dan sekitarnya (semoga kesampaian nulis trip reportnya), saya akhirnya dapat kesempatan memakai kartu kredit mandiri SKYZ buat masuk lounge bandara. Apa sih lounge bandara itu? Bedanya apa sama ruang tunggu biasa? Di lounge bandara, kita bisa duduk-duduk di kursi yang lebih empuk daripada di ruang tunggu terminal bandara, bisa baca koran, ambil minum dan makan sepuasnya. Terus gimana cara masuknya? Biasanya, untuk lounge bandara ada 2 opsi, bayar, atau bayar Rp 1. Kalau bayar, range biayanya antara 50-100ribu, terus kalau mau bayar Rp 1, gimana caranya? Biasanya tiap lounge punya daftar kartu kredit/nasabah prioritas bank tertentu yang diterima. Untuk mandiri SKYZ sendiri list lounge yang menerimanya per 31 Agustus 2015 ada di gambar di bawah ini (bisa berubah sewaktu-waktu).

    Karena flight kami saat itu jam 08.10, berangkatlah dari kost jam 5.30an, karena musti menjemput beberapa anggota gerombolan, berhubung ngantuk karena malamnya nggak tidur, saya mengajak senior saya bapak Dominggus Barminggu aka Djembrik untuk mampir ke Blue Sky lounge di terminal 1C (flight saya di 1B) kebetulan bapak djembrik ini belum pernah memakai kartu SKYZnya untuk masuk ke lounge bandara meskipun sudah cukup lama memilikinya. Ketika masuk, tanya sama mbak-mbak yang jaga, apakah dapat fasilitas diantar boarding naik mobil juga nggak kayak di Blue Sky bandara Adisucipto, ternyata di Jakarta musti bayar tambahan 40ribu kalau mau diantar naik mobil dari lounge ke pesawat. Lumayan sih nggak perlu antri boarding kayak yang lain, dan naik pesawatnya bisa duluan, hahaha, meskipun kalau di adisucipto cuman deket banget antara lounge dan pesawatnya. Di bawah ini adalah struk dari mesin EDC yang menunjukkan kalau kami bayar Rp 1 buat masuk lounge :p. Mayan lah, soalnya ada 1 keluarga yang masuk setelah kami, mau nyantai dulu soalnya flight masih jam 10, udah ngeluarin kartu-kartu di dompet, eh ujung-ujungnya bayar cash. Ya meskipun Kartu mandirinya free annual fee for live, lumayan lah ada added valuenya :ngakak

Continue reading

Apr 14

Delivery Kebutuhan Sehari-Hari Pakai Aplikasi HappyFresh

Jadi pas nggak sengaja baca-baca di Techinasia.com Saya dan sodara @ali_farghani menemukan beberapa startup yang potensial untuk dapat promo di Jakarta. Salah satunya adalah Happy Fresh, apa sih Happy Fresh itu? Happy Fresh adalah sebuah aplikasi yang diciptakan oleh beberapa orang yang udah nggak asing di bidang E-Commerce dan kemudian merintis start up mereka sendiri. Salah satu pendiri happyfresh merupakan mantan salah satu top executivesnya Lazada.

Fungsi HappyFresh sih intinya buat milihin dan nganterin belanjaan kita sehari-hari. HappyFresh dirilis di 2 negara, Indonesia dan Malaysia awal tahun ini, untuk di Indonesia sendiri, kerjasama ama Ranch Market, jadi dia bakal milihin belanjaan kita di ranch market terus mengantarnya ke alamat yang kita inginkan di waktu yang kita tentukan (bisa hari ini atau 1 minggu kedepan), bahkan berani menyatakan barang bisa kita terima dalam 1 jam sejak kita melakukan pesanan. Nanti kalau ada barang yang kita pilih tapi lagi habis, si shopper bakal nelpon kita nanyain mau diganti apa.

Continue reading

Feb 25

Pengalaman Pake Uber Jakarta

Apa sih uber itu? Saya mau share sedikit tentang pengalaman pakai uber jakarta

Mungkin sebagian dari anda pernah dengar apa itu Uber, layanan transportasi yang kata beberapa sopir taksi diuber-uber karena dianggap melanggar aturan. Ya layanan uber ini memang menuai kontroversi di berbagai negara terutama karena dianggap mengancam hajat hidup para supir taksi. You can google “Uber controversy” and you will found thousands of  results. Di Jakarta sendiri pernah diancam akan dilarang oleh Gubernur Ahok, tapi akhirnya Uber berkompromi dengan hanya menyewa mobil+supir dari perusahaan rental mobil terdaftar, nggak kayak konsep awal di negara asalnya sono dimana uber merupakan ridesharing application, jadi kita numpang ke siapapun orangnya yang sudah jadi driver uber, kalau di Jakarta, kita akan dapat mobil+sopir dari perusahaan rental mobil bukan sopir gak jelas.

Uber di Jakarta sendiri telah beroperasi beberapa bulan, seperti dipost di laman https://www.uber.com/cities/jakarta Uber menawarkan 2 layanan, Uber-X dan Uber Black. Uber-X sendiri saat ini masih dalam tarif promo, sehingga tarifnya lebih murah dari taksi biasa Tarif buka pintu 3000, per kilometer 2000 dan per menit 300rupiah, tarif minimalnya 3000rupiah. Uber Black sasarannya emang penumpang kelas premium, tarifnya lebih murah dari taksi premium. Untuk Uber-X mobilnya ada Innova, Avanza, Ertiga (tapi seringnya dapat Innova sih), Uber Black ada Hyundai Sonata, Pajero, Alphard, kalau beruntung bisa dapat BMW/Mercy kalau sial ya dapat Innova juga. Oh iya, untuk pembatalan pesanan setelah 5 menit kena 30.000 jadi kalau mau batalin pesanan karena driver mobilnya mogok atau mau balikin mobil ke rental, bilang ke drivernya suruh dia yang batalin jadi kita nggak kena 30rb.

So far, sudah 20an kali sih pakai Uber, keunggulannya adalah Uber jarang nolak orang, jadi hampir pasti dapat mobil kecuali lagi rame, kelemahannya itu mobilnya nggak banyak-banyak amat dibanding misalnya Grab Taxi, tapi kalau hujan/pulang kantor di jam Sibuk hampir dipastikan susah nyari dari GrabTaxi saat itulah Uber bisa diandalkan. Cara pakainya gimana? Gampang banget tinggal register (pakai link  ini https://www.uber.com/invite/uberprima37 ya :p) terus download aplikasinya, kalau daftar pake link tadi, dapat potongan 75ribu dari first ride, mayan kan :D.Tapi untuk pakai Uber, kita harus punya kartu kredit/ada sodara yang boleh kita pakai kartu kreditnya, karena konsep Uber ini cashless, jadi setiap trip berbayar langsung dipotong dari kartu kredit kita. Bahkan Tol/Parkir pun bisa kita minta sopir yang bayar, nanti dicharge sekalian ke kartu kredit kita.

Continue reading

Oct 25

Nonton Drama Wayang Gaul Nusantara

Berawal dari ketiadaan agenda butuh hiburan, tiap weekend kadang nyari-nyari acara yang pas dengan selera diutamakan gratis. Gayung bersambut karena kebetulan Pakdhe Saya Dedek Wahyudi sering bantu-bantu ngisi musik dan bikin lagu di acara-acara wayang kontemporer di Jakarta, sehingga selain bisa dapat tiket gratisan, sekali dua kali bisa ngintip latihan mereka. Kalau nggak karena Pakde saya, mungkin saya pas masih mahasiswa nggak akan bisa nonton beberapa pergelaran yang tiketnya nggak terjangkau bagi saya kayak Sendratari Mahakarya Borobudur dan beberapa pagelaran lainnya.

Di Jakarta sih mencari hiburan yang masih berbau kebudayaan jawa tidak sulit, karena memang cukup banyak sanggar dan organisasi budaya jawa di Jakarta, sebut saja Wayang Orang Bharata, Swargaloka, dan beberapa organisasi lain yang biasanya memusatkan pentasnya di TMII, TIM, dan GKJ. Kalau Wayang Orang Bharata malah punya gedung sendiri di Senen dan punya jadwal pagelaran rutin. Selain itu di Jakarta banyak sponsor yang masih nggak berkeberatan mengucurkan dana untuk pertunjukan seni tradisional, seperti Djarum Foundation dengan program Djarum Bakti Budaya, Total Foundation, dan Djaya Suprana School of Performing Arts.

Mungkin pertanyaan yang muncul adalah, kenapa sih nyari hiburan berbau budaya jawa? First of all, it’s in my blood, meskipun sampai saat ini saya nggak menguasai satu pun alat musik dan tari-tarian, keluarga besar saya dari Ibu itu isinya seniman jawa , Mbah Putri saya seorang dalang, saudara-saudaranya banyak yang jadi dosen di ISI Solo maupun Yogyakarta, Om dan tante saya tunggal Mbah buyut banyak yang jadi kreator seni seperti komposer gamelan maupun koreografer tari. Profesi mereka itu bisa membawa mereka keliling dunia, Pakdhe saya pernah manggung di Royal Albert Hall yang kesohor itu, meskipun mereka bilang, kalau di solo-jogja ya mereka hanya disegani, lauknya cari sendiri.

Continue reading

Aug 08

Respect Is Earned, Not Given

Dulu ketika kecil saya bertanya-tanya, apa sih arti huruf R di depan nama orang-orang, karena saya dididik dengan ajaran Katholik, saya mengira itu adalah nama baptis orang-orang, karena kebetulan adik saya nama baptisnya Realino, kalau disingkat R juga. Pertanyaan itu sebenarnya muncul karena tiap bapak dapat undangan, selalu ada imbuhan R di depan nama bapak, begitupun kakek dan adik-adik kakek. Akhirnya suatu waktu ketika kakek saya meninggal, saya baru tahu kalau R itu singkatan dari Raden, gelar yang katanya digunakan untuk menghormati orang. Saya akhirnya memberanikan diri bertanya ke bapak saya, kenapa bisa ada imbuhan R di depan nama kakek dan bapak. Bapak menjawab: itu adalah bentuk penghormatan warga, karena bapak belasan tahun jadi kepala desa dan Kakek sudah jadi Carik sejak jaman Kemerdekaan.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi tahu bahwa gelar R itu sebenarnya gelar yang didapat dari keturunan, mereka yang dianggap memiliki darah biru (Vampir kali). Saya tanyakan kembali ke bapak, kok katanya gelar R itu termasuk gelar turun temurun, bapak dengan enteng menjawab bahwa kalau asal mencantumkan gelar tapi tidak diakui masyarakat ya sama saja. Bapak kemudian menjelaskan panjang lebar yang intinya: “Respect is earned, not given”. Meskipun secara trah/keluarga layak mendapat gelar R, kakek tidak mau serta merta mencantumkan huruf itu di akta kelahiran bapak karena pada masa2 itu mulai ada sindiran2 atas ketimpangan yang terjadi di masyarakat dimana kaum yg dianggap ndoro atau bangsawan memiliki tanah yang sangat luas, ibaratnya lahir ceprot aja udah kaya dibanding rakyat biasa. Kadang kaum ndoro punya anak yang nggak ngerti caranya kerja, manja-manjaan doang dan lihat-lihat doang, oleh masyarakat kadang dijuluki den baguse. Jadi julukan den itu pernah digunakan untuk menyindir orang. Kakek percaya bahwa kalau memang layak, pasti masyarakat akan menganggap bapak layak menyandang gelar R sesuai keturunan, meskipun nggak ada huruf R di akta, ijazah, dan surat2 lain bapak.

Setelah makin bertambah usia, meluasnya lingkungan, dan setelah bekerja, saya makin yakin pada “Respect is Earned not Given”. Kadangkala saya melihat, dari sisi posisi/senioritas seseorang layaklah menyandang posisi senior (leader, boss, manager, whatever you called) tapi orang hanya hormat di depannya saja, di belakang pun diperlakukan secukupnya saja, berbeda ketika di depannya langsung. Respek personal tidak bisa dipaksakan, meskipun respek pada jabatan seseorang sering tidak bisa dihindari. Saya masih sering mendapati ketika di rumah, panggilan den jdigunakan untuk menyindir orang yang datang telat, makan doang, nggak ikut kerja bakti dsb. Jadi jangan bangga dulu kalau ada orang manggil den ke situ, siapa tahu lagi nyindir :p. Earn people respect, don’t just let other ask you to be respected.

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes