«

Dec 06

Failure, Anxiety, Happiness

Hihi, tiba tiba kepikiran aja untuk mulai lagi ngisi blog ini lagi setelah lama nggak ngepost apapun maupun blogwalking (sampai lupa username dan password). Yang lucu banget, biasa hidup dengan beberapa password, tapi buat yang satu ini beneran lupa. Jadi setelah bertekad bikin post tentang Visa Kerja Singapur dan Solo Travelling ke Maldives & Sri Lanka (yang masih stuck di part 1 hingga tulisan ini diketik) pengen menyisipkan tulisan ini dulu.

Kok judulnya kayak gitu? Buat saya Juli-sekarang itu bagaikan naik roller coaster. Januari-Juli kayak orang mau ke pantai. Yang ke pantai sih terlalu mainstream, roller coaster aja. Terutama karena belajar banyak hal dalam beberapa bulan saja.

Dipikir-pikir, sebelumnya emang belum pernah ngalamin major failure yang sampai bikin cuman bisa mengutuk diri sendiri. Dulu pas SMA, pengennya daftar ke sebuah institut, tapi nggak boleh sama ortu, eh masih keterima di perguruan teratai emas ternyata. Pas udah lulus, gagal wawancara di sebuah perusahaan, akhirnya selang beberapa bulan keterima juga. Meskipun beberapa bulan cari kerjaan juga nggak nganggur2 amat. Dan ketika keterima, keterima di 3 perusahaan, 2 diantaranya MNC. Meskipun beberapa bilang kok milih yang itu, kenapa nggak satunya. Dan ketika ikutan program pensiun dini di kantor juga ada lagi yang bilang: coba kemarin milih satunya. Tapi pilihan yang itu nggak disesali, ketemu temen2 sekantor yang masih rata2 seumuran. Belajar lumayan, dapat kesempatan proyek di singapur pula hampir setahun (dan sekarang lanjut sebagai 3rd party). Kalau cuman hal2 ini sih belum ada yang bikin menyesal sampai nyesek.

Cuman dalam beberapa bulan, semuanya berubah, salah percaya sama temen sehingga bikin masalah yang untungnya berakhir dengan pensiun dini bersama sama dengan yang lain. Meskipun itu juga bikin drama, ngerusak hubungan sama beberapa rekan kerja yang entah masih bisa diperbaiki atau nggak. Meskipun kalau saya pribadi sudah ngerasa nggak ada lagi masalah ketika saya udah tanda tangan pensiun dini. Mungkin sudah saya maafkan, tapi ya nggak bakalan lupa rasanya dikecewakan. Tapi ada titik di mana saya sudah bilang ke beberapa orang: Saya sudah relakan apapun hasilnya, sampai bikin nazar segala :). Buat beberapa orang mungkin uang yang dipertaruhkan tak seberapa, buat yang lain mungkin uang segitu cukup besar, tapi saya pernah ngerasain tidak berharap lagi, kalau dapat ya rejeki nomplok karena sudah menyadari betapa bodoh dan konyolnya kesalahan yang dibuat. No wonder, ketika pesangon saya ditransfer, cukup butuh waktu 2 minggu untuk mengosongkan rekening saya :ngakak

Di sisi selain karir,  selepas januari nampaknya hidup akan membaik, adik saya sudah lulus kuliah (meskipun sampai sekarang masih lelah mencari kerja), tanggungan ortu mulai berkurang, beliau berdua mulai bisa menikmati masa tuanya. Adik saya sering emosi kalau dibanding-bandingkan dengan saya, apalagi kadang saya menuntutnya untuk ‘menyamakan standar’, untunglah meskipun tertekan dia bisa lulus 4 tahun lebih sedikit. Meskipun tak kunjung mendapat kerja (udah beberapa kali gagal karena obesitas :shutup) saya tetap merasa bangga, mengingat bagaimana hopelessnya dia di SMA, tiba2 diterima di salah satu PTN, dan bisa lulus 4 tahun lebih sedikit. Saya pernah berjanji pada diri saya sendiri, begitu adik saya selesai, waktunya saya mulai memikirkan diri sendiri. Itulah sebabnya di bulan maret saya memutuskan untuk jalan-jalan ke maldives&sri lanka :p dan berjalan lancar meskipun ada beberapa drama yang terjadi (diceritakan di post lain).

Entah bagaimana caranya dan bagaimana awalnya, tiba-tiba roda nasib membawa saya ke suatu posisi yang menyenangkan, tanggungan mulai berkurang, tabungan bertambah, pengalaman bertambah, berada di negara lain untuk bekerja, dan ada yang menjadi tujuan lain untuk pulang ke rumah di bulan Juli. Ya bulan Juli saya mendapat libur 1 minggu 4 bulanan, tadinya saya berniat untuk jalan-jalan lagi, tapi karena Ibu saya meminta saya pulang barang dua hari dan ada yang ingin saya temui, jadilah saya putuskan, ke Myanmar+Kamboja sampai Hari kamis dan selanjutnya saya pulang. Singkat kata, liburan Juli itu adalah titik tertinggi, jalan-jalan ke myanmar&kamboja yang menyenangkan kemudian pulang ke rumah, jalan-jalan dengan keluarga, dan bertemu seseorang. Meskipun hari terakhir di rumah agak kacau, tapi saya pulang ke singapura dengan perasaan gembira dan ingin segera menyelesaikan tugas 2 bulan terakhir di singapura untuk segera pulang kembali ke rumah.

Dan di situlah awal semuanya menjadi perjalanan roller coaster… Begitu terdengar kabar bahwa saya bakalan bisa pensiun dini setelah selesai dari singapura, saya langsung menyusun rencana, terbersit rasa jumawa, jika semua berjalan lancar, menang banyak nih, bakalan jadi cerita yang ‘sempurna’. Ternyata benar kata orang, rasa jumawa adalah awal kehancuran. 2 hal di depan mata tiba2 menjadi nampak tak terjangkau. Ketika saya bisa mulai merelakan materi yang mungkin tak akan saya dapat, tiba-tiba seseorang yang sebelumnya menjadi alasan saya untuk pulang, tiba-tiba semakin tak terraih. Merelakan satu mungkin mudah, tapi merelakan 2 sekaligus tentu saja tak mudah. Akhirnya pahitnya kegagalan dirasakan juga. Mungkin ini adalah waktu dimana saya merasa benar-benar gagal, dimana kemungkinan terburuk bakal kehilangan 2 hal begitu saja. Untunglah di masa2 terburuk itu saya masih punya teman-teman yang mau mendengarkan cerita saya. Nyampah deh akhirnya, dari manusia yang suka ngejekin orang atau mentok2 jadi tempat sampah yang diam saja nggak bisa nasehatin, tiba tiba menjadi tukang sampah ke beberapa orang.

Reaksi teman teman saya tentu saja yang pertama :ngakak karena rata-rata mereka nggak menyangka saya akan berada pada situasi semacam ini. Beberapa memang memberi saran2 yang baik yang jelas mulai mengubah cara hidup saya, tapi beberapa ada juga yang cuman ketawa dan ngejekin. Untuk yang ketawa dan ngejekin doang, no hard feeling man :D karena dari kemarin juga saya bisanya ceng2in orang doang. Saya masih bersyukur, karena pada akhirnya saya masih mendapat pesangon saya dan diajak kembali ke singapura untuk menyelesaikan proyek. Itu saja saya sangat bersyukur, tapi ini semua saya anggap hadiah hiburan saja, karena seorang teman pernah bilang ke saya: “akan ada waktunya dimana kau merasa uang tak begitu berharga, uang bisa dicari, tapi waktu dan kesempatan, mungkin juga seseorang, akan terasa lebih berharga”.

Kegagalan itu ternyata membawa efek samping: anxiety. Tiba-tiba gelisah, terbangun di tengah malam, merasa tak berguna, bahkan saya kadang merasa hanya ingin bangun, bekerja, pulang dan tidur lagi. Untunglah fase terburuk anxiety ini cuman berlangsung selama 1 minggu, atasan2 saya di kantor supportif, teman-teman juga banyak membantu. Setelah itu tinggal rasa gelisah saja yang kadang muncul tiba-tiba, mungkin berkat menuruti saran salah satu teman untuk mulai berolahraga barang sejenak tiap hari. Ketika fase terburuk sudah lewat, akhirnya teman saya ada yang bilang: “kirain situ udah komplit dewasanya, adulting di mana2, temennya juga banyak yang lebih tua, eh ternyata telat puber” dan nggak bisa bereaksi apa-apa selain :ngakak

Meskipun anxiety kadang masih datang tiba-tiba, tapi penyebabnya mulai bisa dikenali dan mulai bisa dihindari. Itu juga karena sepulang dari singapura, saya mencoba mengidentifikasi apa saja sumber kegembiraan saya. Apa saja hal-hal yang dulu saya lakukan semasa kuliah/awal kerja tapi mulai saya lupakan karena tidak sempat dsb. Bergaul kembali dengan warga desa, bertekad mengurus kebun di rumah, mulai titip ternak ke tetangga sekitar, dan mulai beli2 buku lagi ternyata hal-hal yang sempat saya lupakan dan mulai saya kerjakan lagi. Kebun di rumah yang sudah dipercayakan ke saya, dirombak dengan bantuan tetangga, ditanami pisang sekalian menebang pohon-pohon yang sudah tidak lagi bernilai ekonomis. Mulai juga nitip ternak ke tetangga yang dulu udah lama diniatin tapi gak jadi-jadi. Dan yang paling penting, ternyata kebahagiaan saya bukan cuman tentang saya saja, ketika orang tua dan saudara-saudara saya gembira, saya juga merasa gembira. Meringankan beban orang ternyata bisa membuat kita bahagia juga. Maka ketika pesangon saya sudah resmi saya habiskan dalam 2 minggu, bapak cuman ketawa saja, rejeki pasti datang lagi kalau kita sudah berusaha dan pasrahkan hasilnya katanya. Ketika menjelang deadline saya batal berangkat ke singapura tiba-tiba ijin kerja yang baru keluar juga pun saya merasa di situ kembali saya diajarkan tentang penantian dengan sabar, wajah bahagia orang tua saya ketika saya akan kembali ke singapura meskipun hanya 2 bulan. Kini kekhawatiran saya hanya 1: fear of missing out the chance to make my parents happy…..

Ditulis di kantor setelah jam kerja, dengan buku kumpulan puisi “Kepada Mama dan Sepiku” di tas. Buku ini ditulis oleh seseorang yang jalan kaki dari ciputat sampai puncak rinjani, baru sempat diambil di rumah ketika pulang kemarin. Baru baca beberapa halaman, tapi memang benar Ibu-lah yang harus kita pastikan bahagianya, semoga buku ini menyenangkan untuk dibaca, atau menusuk-nusuk sekalian…

 

Kepada Mama dan Sepiku

Kepada Mama dan Sepiku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes