Nonton Drama Wayang Gaul Nusantara

Berawal dari ketiadaan agenda butuh hiburan, tiap weekend kadang nyari-nyari acara yang pas dengan selera diutamakan gratis. Gayung bersambut karena kebetulan Pakdhe Saya Dedek Wahyudi sering bantu-bantu ngisi musik dan bikin lagu di acara-acara wayang kontemporer di Jakarta, sehingga selain bisa dapat tiket gratisan, sekali dua kali bisa ngintip latihan mereka. Kalau nggak karena Pakde saya, mungkin saya pas masih mahasiswa nggak akan bisa nonton beberapa pergelaran yang tiketnya nggak terjangkau bagi saya kayak Sendratari Mahakarya Borobudur dan beberapa pagelaran lainnya.

Di Jakarta sih mencari hiburan yang masih berbau kebudayaan jawa tidak sulit, karena memang cukup banyak sanggar dan organisasi budaya jawa di Jakarta, sebut saja Wayang Orang Bharata, Swargaloka, dan beberapa organisasi lain yang biasanya memusatkan pentasnya di TMII, TIM, dan GKJ. Kalau Wayang Orang Bharata malah punya gedung sendiri di Senen dan punya jadwal pagelaran rutin. Selain itu di Jakarta banyak sponsor yang masih nggak berkeberatan mengucurkan dana untuk pertunjukan seni tradisional, seperti Djarum Foundation dengan program Djarum Bakti Budaya, Total Foundation, dan Djaya Suprana School of Performing Arts.

Mungkin pertanyaan yang muncul adalah, kenapa sih nyari hiburan berbau budaya jawa? First of all, it’s in my blood, meskipun sampai saat ini saya nggak menguasai satu pun alat musik dan tari-tarian, keluarga besar saya dari Ibu itu isinya seniman jawa , Mbah Putri saya seorang dalang, saudara-saudaranya banyak yang jadi dosen di ISI Solo maupun Yogyakarta, Om dan tante saya tunggal Mbah buyut banyak yang jadi kreator seni seperti komposer gamelan maupun koreografer tari. Profesi mereka itu bisa membawa mereka keliling dunia, Pakdhe saya pernah manggung di Royal Albert Hall yang kesohor itu, meskipun mereka bilang, kalau di solo-jogja ya mereka hanya disegani, lauknya cari sendiri.

Yang kedua, meskipun nggak bisa memainkan, saya merasa bahwa kalau nggak ada penontonnya, lama2 kesenian dan budaya akan mati juga, karena itulah saya mencoba membantu sebisanya, dengan menonton dan menyebarkan informasi acara pagelaran itu, syukur-syukur 1-2 teman saya beberapa kali mau ikutan nonton. Saya cuman miris kalau ada yang teriak pas suatu budaya kita diklaim Malaysia, padahal orang tersebut diam saja dan nggak peduli ketika budaya itu kembang kempis mau Mati.

Nah, tentang wayang gaul Nusantara ini, pagelarannya dilakukan minggu lalu, hari Minggu 19 Oktober 2014 di Gedung Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Lakon yang diangkat adalah “Semar Mencari Cinta” dengan mengambil momen tirakatan menjelang pelantikan presiden dan wakil presiden RI. Di daftar pemerannya ada nama-nama seperti Pong Hardjatmo, Marwoto, Soendari Soekotjo. Tentu saja seperti Wayang Kontemporer lainnya, ada kritik sosial nan jenaka di dalamnya. Sebelum pentas ada sedikit obrolan yang bikin saya tergelitik: “Seniman itu kenceng berkaryanya kalau ada keadaan yang tidak pas sehingga bisa dikritik, kalau adem ayem bisa-bisa malah pusing”. Mereka bilang Rendra sukses besar karena masanya pas dan situasi mendukungnya untuk menelurkan karya-karya yang menggigit.

Lakonnya bercerita tentang semar yang tiba-tiba menjadi banyak, ada semar-semar palsu yang sok memberikan nasehat dan petuah. Semar sendiri mengutarakan kekecewaannya ke para dewa dan penguasa, kenapa Dewa dan penguasa seakan lupa dengan para Kawula (rakyat biasa) yang pada awalnya berharap banyak kepada para penguasa. Aksi kocak dari batara Narada bisa menjadi penyegar suasana ditambah dengan alunan musik dari Dedek Gamelan Orchestra yang memadukan Gamelan dengan Instrumen musik modern. Menjelang bagian akhir, ada sesi dimana Jaya Suprana dan beberapa tokoh maju ke depan, menyuarakan harapannya untuk pemerintah yang akan datang, dimana diharapkan pemerintah yang akan datang mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat dan memberikan perhatian kepada pelestarian budaya bangsa.

Untuk foto-foto, bisa dilihat di fesbuknya Swargaloka, kedepannya kalau ada pagelaran semacam ini lagi, biasanya diumumkan di facebook Swargaloka, saya pun biasanya ngeshare di facebook atau lewat twitter saya @pimamanggala. Kalau Swargaloka sendiri sering membagikan tiket gratis dengan mekanisme tertentu, kalau misalnya ada yang berminat tapi kehabisan tiket gratis swargaloka/event wayang lain yang kebetulan saya mau datang, saya bisa mengusahakan tiket gratis untuk 1-2 orang, cukup hubungi saya lewat whatsapp/twitter. Mari kita bersama-sama melestarikan budaya nusantara!

2 comments

    • topikNo Gravatar on October 31, 2014 at 15:03
    • Reply

    itulah, kebudayaan kita mau mati, dicolong bangsa lain, tapi gak ada yg mau nguri2, mendalami, paling tidak mengapresiasi dan menikmati lah, biar seniman, pelaku, dan kreator2 dalam negeri gak mutung dan tetep mau berkarya dan mau mewariskan keahliannya pada generasi selanjutnya

    1. Itulah pik, Actions speak louder than words, but words (hopefully) can spark more actions

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes