Aug 08

Respect Is Earned, Not Given

Dulu ketika kecil saya bertanya-tanya, apa sih arti huruf R di depan nama orang-orang, karena saya dididik dengan ajaran Katholik, saya mengira itu adalah nama baptis orang-orang, karena kebetulan adik saya nama baptisnya Realino, kalau disingkat R juga. Pertanyaan itu sebenarnya muncul karena tiap bapak dapat undangan, selalu ada imbuhan R di depan nama bapak, begitupun kakek dan adik-adik kakek. Akhirnya suatu waktu ketika kakek saya meninggal, saya baru tahu kalau R itu singkatan dari Raden, gelar yang katanya digunakan untuk menghormati orang. Saya akhirnya memberanikan diri bertanya ke bapak saya, kenapa bisa ada imbuhan R di depan nama kakek dan bapak. Bapak menjawab: itu adalah bentuk penghormatan warga, karena bapak belasan tahun jadi kepala desa dan Kakek sudah jadi Carik sejak jaman Kemerdekaan.

Seiring berjalannya waktu, saya jadi tahu bahwa gelar R itu sebenarnya gelar yang didapat dari keturunan, mereka yang dianggap memiliki darah biru (Vampir kali). Saya tanyakan kembali ke bapak, kok katanya gelar R itu termasuk gelar turun temurun, bapak dengan enteng menjawab bahwa kalau asal mencantumkan gelar tapi tidak diakui masyarakat ya sama saja. Bapak kemudian menjelaskan panjang lebar yang intinya: “Respect is earned, not given”. Meskipun secara trah/keluarga layak mendapat gelar R, kakek tidak mau serta merta mencantumkan huruf itu di akta kelahiran bapak karena pada masa2 itu mulai ada sindiran2 atas ketimpangan yang terjadi di masyarakat dimana kaum yg dianggap ndoro atau bangsawan memiliki tanah yang sangat luas, ibaratnya lahir ceprot aja udah kaya dibanding rakyat biasa. Kadang kaum ndoro punya anak yang nggak ngerti caranya kerja, manja-manjaan doang dan lihat-lihat doang, oleh masyarakat kadang dijuluki den baguse. Jadi julukan den itu pernah digunakan untuk menyindir orang. Kakek percaya bahwa kalau memang layak, pasti masyarakat akan menganggap bapak layak menyandang gelar R sesuai keturunan, meskipun nggak ada huruf R di akta, ijazah, dan surat2 lain bapak.

Setelah makin bertambah usia, meluasnya lingkungan, dan setelah bekerja, saya makin yakin pada “Respect is Earned not Given”. Kadangkala saya melihat, dari sisi posisi/senioritas seseorang layaklah menyandang posisi senior (leader, boss, manager, whatever you called) tapi orang hanya hormat di depannya saja, di belakang pun diperlakukan secukupnya saja, berbeda ketika di depannya langsung. Respek personal tidak bisa dipaksakan, meskipun respek pada jabatan seseorang sering tidak bisa dihindari. Saya masih sering mendapati ketika di rumah, panggilan den jdigunakan untuk menyindir orang yang datang telat, makan doang, nggak ikut kerja bakti dsb. Jadi jangan bangga dulu kalau ada orang manggil den ke situ, siapa tahu lagi nyindir :p. Earn people respect, don’t just let other ask you to be respected.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes