Aksi Kamisan Depan Istana

Akhirnya kamis , 03 Juli 2014 untuk pertama kali bisa melihat langsung Aksi Kamisan di depan Istana, kemarin sepulang dari kantor sedikit memaksakan diri untuk ikut ke depan Istana. Sebagai informasi aksi kamisan ini berjalan rutin setiap hari kamis sejak bertahun-tahun yang lalu, kamisan kemarin adalah kamisan yang ke 358. Setiap kamis jam 4-5 dengan dipelopori bu Sumarsih, orang-orang yang masih peduli dengan keadilan bagi para korban pelanggaran HAM melakukan aksi di depan Istana Negara, dengan harapan bisa mengetuk pintu hati bapak presiden yang mulia (meskipun nampaknya sudah tertutup). Aksi ini terinspirasi dari aksi “Plaza De Mayo” tentang aksi tiap hari selasa,  yang di lakukan ibu-ibu yang anak menjadi korban penculikan rezim Argentina dulu.

Meskipun kamisan 3 juli merupakan kamisan terakhir sebelum pilpres, yang datang tidak terlalu ramai, sebagian besar adalah anak muda. Beberapa membentangkan spanduk dan poster bikinan sendiri. Dengan harapan bapak presiden yang terhormat berkenan membaca, tapi apa daya, yang mulia presiden lebih sering membuang muka, bahkan nampaknya tidak sudi melewati para peserta aksi. Tuntutan mereka sederhana: usut kasus pelanggaran HAM, untuk kasus 98, bola pengadilan Ad Hoc sudah dilempar DPR ke presiden, tapi nampaknya pak presiden merasa belum waktu yang tepat untuk melaksanakannya.

Bu Sumarsih sebagai pelopor selalu hadir di aksi kamisan, kata beliau ini adalah kegiatannya setelah pensiun dari sekjend DPR. Kebetulan bu Sumarsih ini asalnya masih satu kecamatan denganku, bahkan beliau adalah teman bapakku di kala muda. Beliau agak terkejut saat mendapati ada orang dari kampung halamannya, anak temannya pula. Kebetulan pula almarhum anaknya memiliki nama baptis yang sama dengan adikku, Realino. Cerita bu sumarsih tentang gugurnya  Mas Wawan ketika reformasi mungkin bisa kita googling sendiri, bisa kita rasakan bahwa yang tadinya kesedihan telah berubah menjadi semangat tiada akhir, untuk menuntut keadilan. Bukan hanya untuk almarhum mas wawan, yang gugur ketika menjadi sukarelawan, ketika mau menolong temannya yang tertembak duluan, tapi untuk semua korban ketidak adilan yang nampaknya dilupakan Negara.

Aksi kamisan biasanya diakhiri dengan refleksi, satu persatu membubarkan diri setelahnya, kebetulan Bu sumarsih diminta wawancara oleh seorang reporter radio denmark. Aku menunggu wawancaranya sambil sedikit mencuri dengar. Meskipun cuman sebentar saja, tapi paling tidak aku bisa memenuhi salah satu janjiku ke bapakku, datang ke aksi kamisan, yang nampaknya tidak mungkin terwujud kalau tidak karena jam kerja di bulan puasa. Harapanku hanyalah, semoga presiden yang baru nanti mau berkomitmen, memberikan kejelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi, karena bangsa ini masih memiliki hutang sejarah terhadap putra-putrinya sendiri…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes