Sekelumit Cerita tentang Lakon Wayang Banjaran Gathotkaca

Fakultas Kedokteran UGM merupakan salah satu fakultas yang rutin menanggap wayang kulit setiap Dies Natalis dan selama 3 tahun terakhir saya di jogja dalangnya selalu Ki Purbo Asmoro, lakon yang pas untuk acara ulang tahun memang lakon Banjaran. Banjaran sendiri berarti urut-urutan/kronologis atau bisa disebut juga perjalanan hidup seorang tokoh dalam wayang. Hampir semua ksatria Pandawa ada lakon banjarannya, dengan ditambah seorang ksatria Kurawa yang meskipun di pihak Kurawa, banyak hal yang bisa kita teladan dari kehidupannya, ksatria itu adalah Karna. Jadi banjaran Gathotkaca merupakan cerita kronologis kehidupan Gathotkaca mulai dari menjelang kelahiran, lahir, masa kecil, masa muda (Gathotkaca dari bayi langsung mlumpat jadi gede gara-gara dicemplungkan ke Kawah Chandradimuka) , sampai dia berhasil menikah dengan dewi Pergiwa yang dicintainya dan hingga gugur di perang Bharatayudha karena pusaka senjata kuntha yang dimiliki raden Karna

Kisah ini diawali dengan kelahiran Gathotkaca yang merupakan putra Bima (Werkudara) dengan Dewi Arimbi, dewi Arimbi sendiri sebenarnya adalah putri raksasa/buta yang didandani oleh Dewi Kunthi sehingga menjelma menjadi perempuan cantik . Gathotkaca kecil diberi nama Tetuko oleh kakeknya, ada keganjilan dalam kelahirannya, yaitu tali pusarnya tidak bisa dipotong dengan alat apapun. Ternyata diketahui tali pusar Gathotkaca baru bisa diputus oleh Pusaka Kuntha. Batara Narada yang bertugas mengantar senjata ini ke Raden Arjuna (Paman Gathotkaca) malah mengantarnya ke Raden Karna karena kemiripan muka mereka. Karna merupakan saudara seibu arjuna yang karena takdir berada di pihak Kurawa, akhirnya terjadi pertarungan memperebutkan senjata Kuntha yang dimenangkan oleh Raden Karna. Arjuna hanya mendapatkan warangka/sarung senjata Kuntha. Karena warangkanya juga merupakan senjata ampuh maka tali pusar tetoku bisa putus juga, dan ajaibnya warangkanya menghilang, menyatu kedalam tubuh Tetuko.

Batara guru memerintahkan Tetuko dibawa ke khayangan yang sedang dilanda peperangan dengan raja setan Kolopracono, bayi Gathotkaca yang masih merah dikirim ke medan pertempuran untuk melawan senopati musuh, ajaibnya meskipun ditusuk, digigit, dan dibanting, Bayi Gathotkaca tidak mengalami luka sedikitpun, senopati kolopracono yang marah protes ke Batara Guru bahwa bayi merah ini bukan lawan sepadan untuknya. Batara Guru pun berpikir kemudian bayi Gathotkaca yang masih merah dicemplungkan ke Kawah Candradimuka beserta pusaka/senjata seluruh dewa-dewa khayangan. Akhirnya keluarlah ksatria muda gagah perkosa eh perkasa dengan otot kawat balung wesi kulit waja sikut pethel garis linggis anu ceret (cuman mengkopas omongannya Ki Purbo :p) yang kemudian ditandingkan dan mengalahkan senopatinya kolopracono bahkan si kolopracono sendiri. Akhirnya khayangan menjadi pemenang peperangan good vs evil.

Cerita di fast forward sampai ke kisah percintaan Gathotkaca-Dewi Pergiwa dimana dewi Pergiwa merupakan sepupu Gathotkaca, anak dari Arjuna. Ternyata, Lesmana Mandrakumara anak prabu Duryudana yang meskipun putra mahkota tidak memiliki kesaktian apapun juga jatuh cinta kepada Pergiwa dan mengadu ke Patih Sengkuni. Sengkuni pun menyusun tipu muslihat bersama Guru Arjuna menemui Arjuna dan mengatakan pernikahan antar sepupu itu tidak baik, selain itu sengkuni juga menggunakan hitung2an weton (hari kelahiran) rumit yang kesimpulannya jika Gathotkaca-Dewi Pergiwa menikah akan berakhir malapetaka. Pernikahan Gathotkaca-Dewi Pergiwa yang sudah dirancang pun dibatalkan. Ini meremukkan hati Gathotkaca, yang memasuki fase galau, minggat dari rumah, bahkan ingin mengakhiri hidupnya dengan cara terbang tinggi terus menukik membenturkan kepala ke gunung, tapi gunungnya yang retak :ngakak

Akhirnya Gathotkaca mendapat petuah, kalau memang kau cinta ya perjuangkan, kalau gak bisa lewat jalan depan ya lewat jalan belakang. Akhirnya Gathotkaca menemui Pergiwa di kediaman Arjuna melalui jalan belakang dan diketahuilah bahwa Pergiwa juga mencintainya dan sedih karena dijodohkan dengan Lesmana Mandrakumara. Akhirnya diculiklah Dewi Pergiwa yang menimbulkan kemarahan Arjuna, Arjuna mengadu ke Werkudara kakaknya, Werkudara marah, tapi memberikan respon yang setengah jumawa karena tau bahwa mereka berdua saling mencinta. Akhirnya terjadilah pertarungan, tepatnya pemukulan satu pihak Arjuna terhadap Gathotkaca yang pada akhirnya Arjuna menyadari Gathotkaca-Dewi Pergiwa saling mencinta dan akhirnya memberikan restunya.

Kisah ini diakhiri dengan Perang Bharatayudha dimana Gathotkaca menjadi panglima perang Pandawa. Di medan pertempuran dia melawan Raden Karna yang masih terhitung pamannya. Gathotkaca bertarung dengan hebat tanpa ada yang bisa menghentikan. Akhirnya Karna dibujuk oleh pihak kurawa untuk melepaskan senjata Kunthawijaya yang takdirnya musti menyatu dengan warangka/sarungnya, awalnya Karna menolak, tapi karena kurawa terdesak akhirnya dilepaskanlah Senjata Kuntha yang mengejar warangkanya yang menyatu dengan tubuh Gathotkaca. Gathotkaca yang mencoba terbang menghindar dikejar tanpa ampun oleh senjata Kuntha untuk menepati takdir ” Pusaka manjing warangka”. Gathotkaca gugur dengan tragis di medan perang untuk membela Keluarganya dan membela kebenaran.

Pertunjukan wayang ini sendiri khas dengan gaya Ki Purbo Asmoro, sabetan, guyonan, dan mengundang dokter2 senior untuk menyanyi ketika goro-goro atau limbukan. Namanya saja wayang dies natalis Fakultas Kedokteran, gamelannya punya dokter siapa, wayangnya punya dokter siapa, panggungnya punya dokter siapa, jadi dalang dang pengrawit cuman modal awak dan baju doang. Karawitan Mayangkara yang pengrawitnya kebanyakan pengajar di ISI Surakarta performanya standar, ya iya lah, standar pengajar/instruktur maksudnya :D.

Mungkin inilah sekelumit cerita Banjaran Gathotkaca, saya gak akan menuliskan hikmah cerita ini panjang lebar, silahkan dibaca dan diresapi sendiri J Ya inilah wayang yang menjadi tontonan dan tuntunan serta menjadi kekayaan khazanah budaya nusantara. Cintailah wayang sebelum wayang diaku negara lain yang bisa membuat anda marah-marah padahal sebelumnya gak peduli wayang itu apa

Kontrakan Craftech

21 Maret 2012, 11.55, menjelang kuliah Otomasi Industri

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes