Apr 17

Pembangunan Kekuatan Pertahanan Indonesia, Benarkah Kita Mengarah ke Invasif?

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita mengenai pembelian alutsista, pengembangan organisasi TNI, industri pertahanan dan hal-hal yang berkaitan dengan kekuatan militer Indonesia. Beragam tanggapan muncul, mulai yang mendukung, mempertanyakan, sampai paranoid mendengar berita seperti ini. Untuk yang mendukung, tentu saja sealiran dengan saya, hehehe. Untuk yang mempertanyakan tentu saja pasti ada alasan-alasan seperti : mending buat beli beras, mending buat bikin sekolah, rakyat lapar kok beli senjata. Itu merupakan perdebatan Klasik yang dimuat dalam teori Gun and Butter, dimana ada perdebatan, memberi makan rakyat atau beli senjata, kalau bisa kedua-duanya kenapa harus pilih salah satu :), so not Gun or Butter but Gun and Butter.

Selama beberapa tahun terakhir, anggaran pertahanan Indonesia terus meningkat, sekarang sudah mencapai 0,9% dari GPD dan untuk alokasi Kredit Ekspor Kementrian Pertahanan menempati urutan kedua setelah Kementrian PU. Tentu saja ini menimbulkan beragam reaksi, baik dalam maupun luar negeri. Untuk di dalam negeri tentu saja beragam sesuai dengan dinamika politik, untuk reaksi di luar negeri lebih menarik lagi, dimana ada yang merasa paranoid dengan perkembangan pertahanan Indonesia. Saya ingin menganalisis mengenai perkembangan pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia dari dua sisi, yang pertama dari sisi strategi pembangunan dan yang kedua dari sisi perlukah paranoid dengan perkembangan pertahanan Indonesia?

Dari strategi pembangunan cukup unik menyimak dinamika kenaikan anggaran pertahanan, baik di APBN maupun dari Kredit Ekspor. Seperti kita ketahui, anggaran pertahanan dalam APBN bukanlah murni untuk pembangunan alutsista, tapi juga termasuk belanja rutin seperti gaji pegawai, tunjangan, dan kebutuhan rutin seperti administrasi, kesehatan dsb. Anggaran pertahanan kita memang naik dari tahun ke tahun, tapi harus disadari pula Gaji personel juga naik tiap tahun, kenaikannya bisa mencapai 10-15%, belum lagi dengan adanya remunerasi (tunjangan kinerja) jadi kenaikan anggaran tidak berbanding lurus dengan kesiapan dan pengadaan alutsista. Sehingga sangatlah naif kalau kita bertanya : Kenapa tingkat kesiapan masih segitu-gitu saja, padahal anggaran sudah naik? Dari sisi organisasi, harus diingat pula, TNI telah memperpanjang usia pensiun personelnya, ini tentu saja berefek pada anggaran. Hal yang menarik pula dicermati adalah berkaca pada apa yang dilakukan Amerika untuk menyelamatkan riset dan pengadaan alutsistanya mereka merampingkan organisasinya untuk memotong anggaran, salah satu korbannya adalah US Joint Forces Command. Jadi di Amerika mereka merampingkan organisasi agar regenerasi alutsista tetap lancar. Uniknya di negara yang anggarannya masih jauh kurang dari kekuatan minimal, malah banyak organisasi baru bermunculan, kiranya perlu ditinjau keefektifan organisasi-organisasi baru tersebut.  Apalagi mengingat pola pembelian kita yang cukup unik dimana kita cenderung mengutamakan platform (studi kasus Korvet SIGMA, Sukhoi jaman mega) dimana pada umumnya pengadaan senjata selalu berupa platform, senjata, beserta spare part dan alat pendukungnya. Pola seperti ini akan memakan waktu lama, karena yang seharusnya dalam satu proses (kajian, usulan kebutuhan, tender, dan realisasi) harus berlangsung 2 kali untuk platform sendiri dan senjata sendiri, walaupun pada akhirnya senjata yang dibeli akan sama dengan senjata yang seharusnya dibeli sekalian dengan platformnya. Untuk spare part sendiri juga akan sangat berefek ke kesiapan apabila kita tidak membeli stok spare part yang cukup. Apalagi jika kita mau membeli spare part ke negara yang punya kebijakan satu pintu untuk industri pertahanannya. Jadi kedepannya diharapkan adanya pertimbangan jangka panjang dalam pengadaan, sebisa mungkin diseimbangkan antara platform, senjata, dan dukungannya (spare part dan alat pendukung) sehingga operasional alutnya akan lancar.

Untuk keparanoidan negara lain, tentu saja memiliki faktor historis dimana Indonesia pernah menjadi kekuatan terbesar di belahan bumi selatan, Kita sebagai generasi muda hendaknya mengingat hal tersebut tetapi jangan sampai terjebak pada euforia tersebut. Kita tidak bisa pergi perang dengan hanya mengandalkan kejayaan masa lalu. Hendaknya proses transformasi dari kekuatan terbesar menjadi kekuatan biasa (dari sisi militer) menjadi pelajaran berharga. Kalau menilik proses yang sedang kita lakukan sekarang adalah ibaratnya mencapai kapabilitas yang seharusnya kita capai dengan struktur organisasi sekarang. Katakanlah kita menambal jaring yang rusak, belum sampai pada tahap menambah luas jaring. Saya contohkan pada pembelian T-50, kita akan mengganti Hawk Mk-53 dengan T-50, jadi kita ingin mempunyai kapabilitas skadron 15 secara utuh, dengan menilik kenyataan jumlah Hawk Mk-53 kita tidak mencapai standar 1 skuadron. Begitu pula dengan pengadaan Tucano, dimana yang digantikan sudah tidak operasional, dan Sukhoi dimana kita menggenapi supaya jumlahnya standar 1 skuadron. Jadi kekuatan kita belum bisa dikatakan meningkat signifikan jika patokannya adalah organisasi TNI, kita baru AKAN mencapai level yang SEHARUSNYA kita capai jika pembangunan kekuatan kita tidak terganggu. Reformasi dan pasca reformasi cukup memberikan pukulan bagi kekuatan pertahanan kita, dan mengakibatkan peremajaan alutsista menumpuk di tahun-tahun ini, kita ambil contoh Kapal Selam dan PKR dalam negeri, itu seharusnya tercapai dalam renstra TNI AL 2004-2009, tetapi karena proses berbelit dan sarat politis akhirnya tergeser dan direvisi ke renstra TNI AL 2009-2014. Negara kita terbentang luas, kekayaan alamnya selain memberikan anugrah juga memberikan beban bagi TNI dan rakyat dalam menjaganya. Bukankah lazim orang ingin menjaga halaman rumahnya dari pencuri? Maka dari itu sangatlah aneh jika ada negara yang mencap kita ingin menjadi kekuatan ofensif/invasif. Keadaan alam kitalah yang memaksa kita memiliki LPD, LST, dan banyak kapal angkut. Pergeseran pasukan dari pulau Jawa ke Sumatra saja setara dengan pelayaran lintas eropa. Apalagi kondisi alam Indonesia yang banyak daerah rawan bencana, tentu saja kekuatan lintas laut sangat berperan pada misi OMSP (Operasi Militer Selain Perang)/HADR (Humanitarian Aid and Disaster Relief).

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah bargaining point kita dalam mencari alutsista dari negara sahabat. Kita harus berusaha keras agar setiap pernyataan yang bertujuan untuk menaikkan bargaining power kita benar-benar sepadan dengan alutsista yang didapat. Karena bila kita tidak berhati-hati, reaksi negara lain terhadap pernyataan kita bisa membuat mereka memperkuat kekuatan militer mereka dan kalau kita tidak mendapat alut yang sepadan, maka makin tertinggallah kekuatan pertahanan kita. Jadi jangan sampai kita aman karena kebohongan, karena kebohongan tersebut suatu saat bisa menodong balik ke kita. :)

“i’m not war monger, just a people who hold civis pacem para bellum”

Adrianus Prima

Mahasiswa sok Pengamat tapi bukan tentara wannabe

 


17 comments

Skip to comment form

    • ravagerNo Gravatar on April 18, 2011 at 06:53
    • Reply

    selangkah demi selangkah …. memang berat , namun jika pemerintah kita serius dan ulet( tanpa memikirkan pencitraan ) dlm 1 dekade ke depan , walau tdk bnyk …. saya rasa kita sdh mulai bs bersuara :)b

    1. hehehehe, iya mas, jelas itu, kita harus meraih suara yang seharusnya kita punyai sejak lama :D
      tapi sangat naif kalau bilang kita pasti jadi kekuatan besar dalam waktu dekat, jelas semua butuh proses, tidak ada waktu buat berbangga dan larut dalam romantisme masa lalu

    • tegeNo Gravatar on April 18, 2011 at 17:17
    • Reply

    ibarat mau kenyang dulu apa aman dulu… dan kalo bisa kita aman dan juga kenyang…

    pertahanan kita baik, juga kelaparan gag ada lagi

    memang butuh proses, dan dukungan dari semua rakyat Indonesia untuk mencapai hal itu :nerd

    • obal hoxNo Gravatar on April 18, 2011 at 20:59
    • Reply

    nice info gan

    • CakraNo Gravatar on April 19, 2011 at 00:49
    • Reply

    Si vis pacem parabellum,apalagi dalam suasana dunia yg makin g menentu ini,jelas pembangunan kekuatan TNI mesti jalan terus.Malah menurut saya sudah saatnya kita punya alutsista strategis biar posisi tawar kita didunia makin tinggi,biar kita ga cuma jd penonton d pinggir panggung arms race yg cuma ngumpulin remah2 dari para pementas dipodium.hehe.Misalnya armatim kita d masa depan dilengkapi sama sub kelas Borey lgkp sama Bulavanya sekalian tapi conventional warhead dgn escort 2 improvised Kilo sma penambahan kemampuan tempur laut lepasnya entah dgn penambahan fregat atau PKR.Armabar dilengkapi 1 kapal sekelas Mistral dgn escort PKR nasional plus Fregat dgn Yakhont plus sub mcm improvised Kilo n memperkuat armada KCR/FPB.D udara armada Sukhoi bersenjata lgkp mesti ditambah(Sesuai MEF,10 skuadron), proyek KFX mesti ditekuni lbh giat lagi,satrad ditambah,pembangunan simulator2 n sekolah penerbang tempur didukung armada pswt latih yg tepat.Didarat kita perlu membentuk atau mereformasi satuan2 infantry jd infantry mekanis,mengembangkan proyek artileri roket n rudal jelajah nasional n memperkuat satuan2 kavaleri lapis baja dgn tank2 medium/tank destroyer & udara dgn heli2 serang berat/ringan.Kalo saya bisa jadi Hitlernya Indonesia it yg bakal saya lakuin.hahahaha.

    • ravagerNo Gravatar on April 19, 2011 at 03:47
    • Reply

    @prime … untuk yg msh onani dgn romantisme era 60-an … saya hanya bs menitipkan doa saja :p

    mimpi saya tdk muluk … asal bs mengikuti renstra sesuai jadwal saja sdh alhamdulillah …. jika itu sdh tercapai …

    barulah kita rajut mimpi yg baru :D

  1. @tege, betul ge, semua ada porsi anggarannya masing-masing, dan kalau mau anggaran buat tentara dihapuskan ya terserah, asal jangan protes kalau banyak penyelundupan dan maling ikan :p

    @gombal : ngejang mulu lu

    @cakra : betul sekali, tapi kita juga harus sadar, anggaran kita terbatas, jadi kalau mau memberikan solusi ya kita harus bepatokan pada anggaran tersebut, saya jadi ingat salah satu buku fenomenal tentang pembangunan kekuatan pertahanan kita, dimana secara konsep kebijakan bagus, tapi ketika masuk ke postur TNI yang diusulkan, pertanyaan saya cuman : mau rakyat nggak dikasi dana pendidikan &kesehatan? :p . jadi kita juga harus realistis dengan anggaran yang ada

    @om ravager,,,kekekek, betul om, setuju, bener, kalau maunya muluk semua ya buat apa ada renstra 2024 :D setelah MEF (yang mbingungi itu) baru kita coba untuk grow more than expected

    • CakraNo Gravatar on April 19, 2011 at 17:20
    • Reply

    Yep.Tapi kn berandai2 kalo saya jd Hitler.haha.Lgpl pendidikan n kesehatan it memang jd mslh dmn2 mau negara maju atau berkembang zaman dulu atau skrg dialokasikan dana berapa juga g tlalu signifikan jg perkembangannya,jd menurut saya mending nyelesain 1 masalah dlu yaitu masalah pertahanan n posisi tawar politik kita.

    1. hehehe, tapi ya gak bisa kita mengutamakan pertahanan, bisa-bisa pemerintahan yang kayak gitu akan ditumbangkan sama rakyatnya…
      dan pemerintahan penggantinya akan lebih mengurangi anggaran pertahanan biar gak bernasib sama kayak yang digulingkan :)

    • ravagerNo Gravatar on April 20, 2011 at 04:03
    • Reply

    sebenar-nya kl saya boleh jujur …. saya mlh bersyukur dgn ada-nya peristiwa MV.kudus …

    everybody got slapped in the head hard enough , bahkan untuk penghuni senayan :D

    bahkan jika memang kasus pembelian MILGEM adlh benar …. mungkin memangg ada kaitan-nya dgn pemenuhan MEF .. baik lgsg maupun tdk lgsg

    namun semua kembali ke anggaran …. namun saya pny keyakinan … jika PDB kita naik 7% saja thn ini ….

    somebody gonna push the pedal faster …

    but not that fast dude … :D

    • CakraNo Gravatar on April 20, 2011 at 22:18
    • Reply

    Bener.Kalo mau digulingkan saya luncurin Bulava ke tengah2 massa.buakakakakakaka.:p.Sebenarnya mslh pendi2kan n kesehatan tu bisa sdkt diringankan dgn memperbaiki sistem asuransi kita.Hukum n parlemen juga mesti di"utak-atik",tapi di"utak-atik" kata2 dan alasannya jd keliatannya berpegang sma UUD 45,hahahaha.:p

    1. hahaha, itulah dia kenapa orang bilang kita gak bisa bandingkan pemerintahan dengan game RTS :D
      MILGEM? menarik, setahu saya kalaupun itu jadi bukan atas inisiatif yang harusnya mengusulkan :malu:

    • CakraNo Gravatar on April 20, 2011 at 22:22
    • Reply

    @Bung Ravager:Kalau AP kita 5% aj dari APBN n digunakan dgn bnr n selalu ada sinkronisasi antara KomSa,KemHan,n TNI slma renstra smpai 2024 pasti pembangunan pertahanan kita "lumayan" cepat n lancar.hehe.

    • CakraNo Gravatar on April 20, 2011 at 22:37
    • Reply

    @Bung Ravager:MILGEM it kita bikin di PAL n Turki(alih tekno) ato Turki semua yg buat?Trus proyeksi penugasannya?Utk gantiin korvet2 kelas Parchim ya?Kita ini kalo mau dibanding2in kaya doktrin AL USA ya.Armada kapal permukaannya yg diperkuat.Trus tetangga kita di utara nguatin armada kapal selamnya ky doktrin AL US.hehehe.

    • CakraNo Gravatar on April 21, 2011 at 13:51
    • Reply

    Yeah.Game yg plg riil ngegambarin ribetnya ngurus negara it cuma Caesar ato Zeus doank.hehe.Setiap segi kehidupan mesti diperhatiin kalo g rakyatnya pada emigrasi n kalo mau slmt dari barbarians n hostile neighbours mesti punya tentara yg kuat juga.Di kaskus g ad bahas Milgem ya?Yg saya tau yg ama Turki cuman pengembangan IFV ama roket doank,tp roket jg kynya keroyokan amat Cina.

    • ravagerNo Gravatar on May 14, 2011 at 07:12
    • Reply

    @cakra: hehehe tenang masbro … itu jg msh gosip kok :p

    @prima : iya om …. hanya atas asas "sekali mendayung 2-3 pulau ….. " …. yah , saya hanya bs berharap2 cemas saja :D

    toh FORMILER sdh kenyang dgn sabar :)b

    • CakraNo Gravatar on June 8, 2011 at 10:30
    • Reply

    Bung Ravager:Iya nih.Udah bosan saya bc berita2 trutama ttg Lontong2an.Informasi2 ttg alutsista bnyk yg simpang siur.Entah salah pers atau sumber yg kebanyakan “hoax”.Blum masalah MBT,PKR,dll.Sbnrnya yg perlu dipertanyakan itu komitmen pemerintah n DPR.Harus sinkron.Yg ada skrg kn malah saling lempar tanggung jawab.Bahkan oknum2 komisi I DPR malah suka berkomentar ga sedap ttg alutsista n pertahanan kita.Aneh memang.Blm lg mslh LSM dll yg suka berkomentar sarkatis berhubungan dgn modernisasi alutsista kita.Ga perlu lah.Perang pake bambu runcing aja lah.Padahal kalo perang palingan kabur ke luar negeri dan mereka ga melihat pembangunan kekuatan militer dari sisi posisi tawar politik di dunia.Miris memang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes