Feb 18

Kajian Awam : Menangkal Ancaman di Natuna

Natuna merupakan salah satu gugusan kepulauan terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Letaknya yang di tengah jalur pelayaran dunia, serta di antara malaysia semenanjung dan malaysia kalimantan membuat Natuna memiliki posisi strategis, belum lagi ditambah kekayaan hidrokarbon disekitarnya. Salah satu growing power dunia pernah menandai Natuna dengan garis putus-putus bukan garis tegas yang berarti batas wilayah.
Mengingat cukup hangatnya suhu kawasan tersebut, dimana ada konflik gugus pula spratley antara beberapa negara dan letak strategisnya, saya merasa perlu adanya sebuah gugus tugas untuk menangkal ancaman di ambalat, sebagaimana gugus tugas ambalat.

Seperti kita ketahui, di Natuna terdapat lanud Ranai, Satuan Radar 212 TNI AU, dan lanal Ranai. Lanud Ranai sendiri merupakan pangkalan udara tipe C dimana tidak ada skadron udara yang berpangkalan disana dan dipimpin oleh seorang Letkol. Lanal Ranai secara umum membawahi kapal dengan klasifikasi KAL (Kapal Angkatan Laut) dan sering digunakan untuk singgah oleh kapal-kapal yang sedang melakukan patroli perbatasan maupun dalam operasi-operasi di sekitar perairan Natuna. Menilik pada berbagai fakta tersebut, saya berpendapat, alangkah baiknya jika fasilitas yang telah ada tersebut kita manfaatkan untuk langkah pencegahan sengketa perbatasan di Natuna. Tentu saja selain mengandalkan langkah diplomasi, kita juga harus bertindak secara nyata untuk menunjukkan bahwa Natuna adalah bagian dari NKRI yang tidak boleh hilang sejengkalpun. Ada fakta miris di gugusan Natuna, ada sebuah pulau yang dijuluki “Pulau Jenderal” karena sering dikunjungi jenderal dan pejabat dari pusat tapi tidak ada kemajuan yang didapat pulau tersebut setelah kunjungan berakhir.

Untuk analisis kekuatan minimal yang dibutuhkan, dengan latar belakang awam saya, saya akan membuat analisi sesuai dengan tingkat pengetahuan saya. Untuk ancaman dari laut, seperti kita ketahui, beberapa kali Armada Kapal perang china mendekati perairan Natuna, bahkan kapal patroli China pernah mengawal kapal ikan China yang akan mencari ikan di sekitar perairan Natuna dan beberapa kali bersitegang dengan petugas KKP, Marinir, maupun TNI AL. Untuk ancaman laut, saya akan menempatkan 1 KCT untuk aktif berpatroli di Perairan sebelah utara yang menghadap ke laut china selatan, kenapa cuma 1? mengingat jumlah KCT yang kita miliki masih sangat terbatas. Selain KCT, 1 kapal kelas Parchim akan berfungsi sebagai kapal patroli dan sebagai backup dari KCT/Unsur kapal perang lain tersebut apabila terdapat sasaran bawah air yang terdeteksi, Parchim yang dikirim harus memiliki mata, telinga, dan senjata yang berada pada kondisi fit karena apa? Apabila dirasa situasi mengancam, RBU-6000 dari parchim selain dapat digunakan untuk menghancurkan target bawah permukaan, bisa juga digunakan untuk mensaturasi sonar kapal selam sehingga yang didengar oleh operator sonar kapal selam hanyalah suara bising. Selain 1 KCT dan 1 Parchim, saya akan menempatkan 2 Perusak Kawal Rudal (PKR) untuk menjaga sisi utara dan sisi selatan. Untuk yang sisi selatan, kadang kala tugasnya akan berat karena akan menangkal ancaman target udara, permukaan, dan bawah permukaan berbeda dengan yang di sisi utara yang target bawah permukaan akan dihandle oleh KCT. Untuk kebutuhan tersebut, diperlukan KRI yang memiliki rudal dan senjata anti serangan udara, Rudal dan senjata Anti Kapal permukaan, serta senjata anti kapal selam seperti torpedo dan ranjau. Selain senjata multi dimensi, radar dan sonarnya juga harus berfungsi dengan baik. Untuk fungsi ini, saya akan cenderung memilih SIGMA class atau Fatahillah Class, untuk Van Speijk sendiri saya rasa kelemahannya adalah di pertahanan udaranya. Walaupun harus kita akui, kapal kapal permukaan kita masih lemah dalam pertahanan udara karena rata-rata baru dilengkapi dengan rudal hanud titik. Untuk menambah daya gempur dan detterence, saya akan menempatkan 1-2 Kapal Cepat Rudal (KCR) mengingat jumlahnya lumayan dimana ada 2 kelas (Kelas Mandau dan Kelas Layang), tapi mengingat rudal yang diusung KRI Layang yaitu C-802 yang memiliki daya jangkau 120km, maka saya akan cenderung memilih Kelas ini. KCR KCR ini selain sebagai unsur pemukul dapat pula digunakan sebagai kapal patroli serbaguna. Satu kelemahan KCR-KCR ini adalah radarnya masih 2D sehingga untuk pendeteksian target udara sebaiknya diserahkan ke kapal-kapal PKR. Untuk mendukung gugus tugas laut yang terdiri dari 5-6 kapal ini sebisa mungkin ada 1 kapal bantu untuk logistik dan BBM kapal.

Untuk Gugus tugas udara, panjang landasan pacu lanud Ranai yang sekitar 2500m dapat digunakan untuk Short Deployment 1 Flight fighter (bisa seminggu dalam sebulan), bisa dari Pekanbaru, Pontianak, maupun lanud lain, salah satu kriteria yang harus dimiliki adalah memiliki rudal anti sasaran permukaan, untuk saat ini yang kita punyai adalah maverick. Walaupun secara panjang landasan pacu memadai, kita tidak bisa memungkiri fasilitas penunjang seperti apron dan shelter masih belum memadai, semoga kedepannya menjadi perhatian para pengambil kebijakan. Untuk unsur intai maritim, kita akan sangat membutuhkannya, apalagi mengingat PLAN (Angkatan laut China) memiliki keunggulan dalam bidang ini, saya akan menempatkan 1 pesawat intai maritim secara bergiliran, untuk jenisnya bisa berupa NC-212 MSA penerbal ataupun CN-235 MPA TNI AU. Unsur intai maritim ini akan sangat penting mengingat keterbatasan radar kapal untuk melihat target dibalik horizon. Selain itu, apabila CN-235 ASW sudah operasional, maka dia akan mampu memandu rudal Exocet dari SIGMA class untuk mencapai sasaran dengan jarak jangkauan di balik horizon (Over The Horizon Targeting).

Untuk unsur di pulaunya, saya akan menempatkan 1 gugus tugas gabungan dimana ada marinir untuk pertahanan dan pengamanan lanal, paskhas untuk pertahanan satrad dan lanud, serta batterai arhanud untuk pertahanan terhadap serangan udara.
Demikian kajian awam singkat saya tentang menangkal ancaman di Natuna, apabila ada kesalahan atau kekurangjelasan, saya terbuka untuk diskusi kritik dan saran.

Salam kebangsaan

4 comments

Skip to comment form

    • CakraNo Gravatar on April 4, 2011 at 07:33
    • Reply

    Gimana kalo misalnya beli mobile launcher C-802 atau Exocet MM 40 trus ditempatin disana,plus 1 ato 2 kompi marinir ato 1 kompi infantri mekanis didukung Poprad,2-3 helikopter Super Puma TNI AL utk intai sma anti kapal selam,1 NC-212 Patmar(Wirosableng) utk unsur intai(sukur2 ditempatin CN-235 MPA)& 1-2 KCR yg buatan Batam it lho,yg pake C-705.Trus yg ptg upgrade lanud spy bs akomodasi semua jenis pesawat AU n AL.

    1. betul, artileri pertahanan pantai (gun maupun missile) kayaknya selama ini kurang dilirik…memang salah satu pertahanan statis untuk memagari ya land based SSM, asal diberi dukungan heli untuk OTHT maka kita bisa membuat no sail zone :D ….

    • CakraNo Gravatar on April 6, 2011 at 03:16
    • Reply

    Ya.Didukung R-han yg semoga akan diperbesar kaliber n jarak jangkaunya.Terus kita kn ada kerjasama mau bikin C-802 bareng Cina.Moga realisasinya cpt n dikembangin jg yg platform land base launcher jd artileri pertahanan pantai kita jg makin kuat.O y,mslh artileri,sistem ARCHER/CAESAR co2k g y buat pertahanan pantai?

  1. yap betul….pertahanan pantai yang artileri gun kayaknya perkembangannya kurang maju dibanding missil…. jadi ya mending land based SSM :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes