Nov 30

Membangun Kapabilitas Angkatan Laut Negara (yang katanya) Maritim

Pertahanan adalah tanggung jawab seluruh Warga Negara Indonesia. Pertahanan itu cakupannya luas, bukan cuman dari sisi militer, tetapi juga mencakup Ipoleksosbud pula. Pada tulisan kali ini, saya ingin mengangkat tentang pembangunan kapabilitas angkatan laut dari negara kita yang katanya negara maritim. Beranjak dari kewajiban bela negara, saya ingin menyajikan sebuah tulisan dari pandangan awam yang tentu saja tidak merepresentasikan pandangan dari institusi manapun.

Indonesia adalah negara kepulauan yang wilayahnya terbentang dari sabang sampai merauke, dengan karakteristik perairan yang unik. Bagian barat didominasi littoral area dan bagian timur didominasi Ocean/offshore area. Sehingga dibutuhkan kekuatan Littoral maupun Ocean Going yang harus dibangun secara berimbang. Power projection juga dibutuhkan, karena sekedar operasi lintas laut dari jakarta ke papua saja di negara lain sudah seperti operasi amfibi antar kontinen. Angkatan lautnya memiliki seratusan KRI dengan kemampuan yang cukup merata dari mulai Tempur, Angkut, Patroli, supplai, serta kapal pendukung lainnya. Untuk kekuatan tempurnya didominasi oleh kelas fregat dan korvet serta ditambah beberapa kapal cepat rudal, kebanyakan produk diatas 90an, kecuali kelas SIGMA yang merupakan anggota termuda gugus tempur Armatim. Negara yang panjangnya membentang setara eropa ini hanya memiliki 2 buah kapal selam kelas U-209 dengan salah satunya sedang berada di korea untuk overhaul. Dari pandangan awam saya ada 3 masalah utama yang cukup mengganjal yaitu 1. jumlah armada 2. Usia armada 3. Operasional armada

Jumlah armada yang berada di angka seratusan tentu saja masih jauh dari kata cukup, dan sebagai orang awam yang kurang memahami konsep MEF, saya ikut menekankan, apalah artinya jumlah kalau kapabilitas yang dimiliki hanyalah berlayar, tetapi harus disepakati bersama jumlah adalah hal pertama yang harus ditingkatkan. Singapura yang hanya sekecil jagung di dalam peta saja memiliki 6 Kapal Selam dan Frigat kelas formidable yang bahkan lebih canggih dari kelas La Fayette di negara asalnya. Apalagi jika kita bandingkan dengan growing power yang masih mengklaim Natuna sebagai bagian dari wilayahnya, yaitu China dengan PLANnya. Salah satu alternatif yang bisa diambil untuk pemenuhan jumlah adalah memberdayakan industri strategis lokal seperti PT PAL, sehingga (diharapkan) bisa menurunkan ongkos pengadaan kapal baru, dan jangan sampai kejadian produk lisensi lebih mahal daripada aslinya terulang kembali. Maka dari itu, saya pribadi sangat mendukung proyek PKR dan ToT kapal selam di PT PAL serta kontrak pengadaan LST dengan catatan HARUS ADA PEMBENAHAN DI PT PAL, cukuplah kita belajar dari kasus LPD asal Korea yang dibangun di PT PAL

Masalah kedua adalah usia armada, kita tidak bisa menutupi kenyataan, armada pemukul terbesar kita, Van Speijk class merupakan salah satu kapal paling senior di armada kita, dengan umurnya yang sudah melebihi 40 tahun, seharusnya sudah memasuki masa phased out. Namun karena berbagai faktor yang belum mengijinkan penggantian, mau tak mau kita harus tetap menggunakan dan meningkatkan kapabilitasnya, maka tidak heran upgrade SEWACO dan pemasangan SSM baru adalah hal mutlak agar VS class tetap bisa menjawab tantangan jaman. Selain itu di inventori kita ada juga LST dari amerika yang merupakan Veteran Pendaratan di Normandy,,,bayangkan,, kita masih menggunakan LST alumi Perang Dunia Kedua. Maka dari itu modernisasi juga menjadi isu penting yang harus dipikirkan. Maka dari itu saya sangat mendukung langkah TNI AL mendecommisionedkan kapal-kapal yang telah lewat masa pakai serta kapal yang dianggap tidak ekonomis lagi dan menggantinya dengan kapal buatan dalam negeri.

Masalah ketiga yang tak kalah penting adalah operasional, operasional sendiri bisa berupa BBM maupun maintenance. arang yang menyadari, bahwa ini adalah fase terpenting dan menyedot anggaran yang tak kalah besar, padahal tuntutan untuk memperbarui dan menambah armada sudah sanggat menggerogoti anggaran. Akhir-akhir ini, dalam pandangan saya, TNI AL sangat akrab dengan fungsi konstabulari, sampai bahkan saya dengan kapal angkut pun terpaksa melaksanakan fungsi pengamanan. Kenapa? jawabnya gak jauh-jauh dari anggaran. .Berita TNI AL berhutang BBM kepada BUMN yang pernah memonopoli minyak sudah pernah menyeruak. Maka tidak heran jika rata-rata kapal yang digunakan untuk patroli adalah kapal-kapal yang dipandang ekonomis dan irit, ekonomis dan irit ini tidak selalu identik dengan kapal kecil, karena kapal macam FPB-57 dan PSK-5 itu didesain untuk balingan tinggi. Selain itu, jika berkesempatan melihat keadaan armada/pangkalan, jamak kita lihat banyak kapal sandar, tentu ada alasan dibalik sandarnya kapal-kapal tersebut. Bukan rahasia lagi kalau TNI pada umumnya tidak bisa menanggung ongkos perawatan dari seluruh alut yang ada. Itu terlihat dari tingkat kesiapan yang pernah disampaikan oleh Kepala Staf angkatan maupun panglima TNI. Kalau saya pribadi berpendapat, hendaknya dilihat pula apakah kapal itu masih memiliki kapabilitas seperti seharusnya ketika menghitung kapal tersebut sebagai kapal siap layar&tempur, jangan beralasan karena sudah jadi resiko prajurit sehingga memaksakan kondisi kapal dsb.

Untuk menghadapi situasi yang demikian, saya memiliki beberapa pendapat, diantaranya:

Pembangunan kekuatan itu tidak boleh nanggung, harus mengakomodir seluruh spektrum kebutuhan, baik di inshore maupun offshore, baik tempur, patroli, angkut, supply, maupun bantu. Dimulai pada perencanaan, pembangunan kekuatan, pelaksanaan, dan pemeliharaan. Jangan sampai terjadi ganti pimpinan ganti kebijakan, kalau seperti itu kita akan terus berkutat pada rencana jangka pendek dan tidak akan pernah berpikir sampai ke depan.

Yang punya modal kuat akan unggul duluan, modal belum tentu alutsista, tahu lebih dalam tentang wilayah yang dipertahankan itu sudah advantage yang sangat besar, maka dari itu peta bawah laut adalah isu sensitif, kita pernah mengalami peta bawah laut kita disalahgunakan dan hampir dijual ke negara luar (walau ada yang bilang, itu kan yang ketahuan). Masih ingat kan kejadian kapal survei USN diusir oleh kapal sipilnya China? terus akhirnya PLAN yang turun tangan. kita bisa mencontoh PLAN, tanpa banyak gembar-gembor dan disadari banyak orang, muhibah kunjungan kapal PLAN memiliki tren meningkat drastis dibanding masa sebelum 2000an,kenapa? Banyak yang tidak sadar itu juga bertujuan untuk data&intelligence gathering,sebelumnya di asia timur yang cukup agresif mengirim kapal survei itu jepang, dan sekarang PLAN sudah mengikutinya. Muhibah kapal pengendali satelit juga harus diperhatikan, untuk bisa mendapat gambar yang baik, satelit surveillance memerlukan kontrol dari stasiun bumi yang akan menyetir satelit tersebut supaya senantiasa pointing ke wilayah yang ingin diketahui.

Dari sisi bangkuat, PLAN membangun kapal besar maupun kapal kecil (ini berbeda dengan tren di Eropa barat dimana memaksimalkan kemampuan individu kapal dan meminimalkan jumlah) dan PLAN sadar, jumlah manpower bisa menjadi buah simalakama. Dibanding negara yang mengaku kepulauan, jelas pelaksanaan tugas pokok Angkatan Laut di PLAN benar-benar matang dan terarah, 3 fungsi dasar AL, defence, Kontabulari, dan good order at sea benar-benar dilaksanakan secara proporsional disana.

Mungkin baru ini yang bisa saya sampaikan, kembali saya tekankan, ini adalah pendapat seorang awam yang ingin menyajikan pandangan seorang awam terhadap pembangunan kekuatan Angkatan Laut negara tercinta

Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes