«

»

Jun 15

Payung Pertahanan Udara (Air Defence Umbrella) Part 2

Secara umum, konsep hanudnas Indonesia memang unik karena mengingat kekuatan yang ada saat ini kebanyakan berupa AAA(anti aircraft artillery), MANPADS, maupun SHORAD gun missile complex. Selain itu KRI yang berkemampuan radar dan rudal hanud juga dimasukkan dalam kekuatan pertahanan udara nasional, sebenarnya ini juga menjadi tren di negara-negara lain seperti amerika dengan aegis class destroyer dan cruiser, russia dengan kirov classnya dan inggris dengan type 45 Daring class destroyer-nya. Yang menjadi perbedaan adalah sistem pertahanan udara kapal-kapal tersebut sudah berupa SAM jarak jauh dan yang dimiliki KRI kita saat ini masih berupa Point Air Defence/SHORAD.

Menyikapi hal tersebut, saya mencoba membuat sebuah kajian kecil-kecilan hasil pandangan orang awam tentang pembangunan air defence umbrella yang mungkin bisa diawali dari subsistem yang telah ada sekarang.  Pertama-tama untuk subsistem AEW harus diakui bahwa negara kita masih belum memiliki sistem ini, dan sebenarnya untuk mengisi ini saya pribadi cenderung ke Erieye system yang mampu dipanggul pesawat sekelas CN-235(jika mengacu pada An S-100 Argus(saab-340+Erieye system) milik swedia, bahkan jarak jangkau CN-235 lebih jauh) dan  radar erieye yang mampu memberikan pendeteksian 360 derajat dan jangkauan 350km di area yang sarat akan peralatan electronic warfare. Selain itu keunggulannya adalah masih mampu mendeteksi target ketinggian rendah, memiliki fungsi IFF, dan memiliki fungsi sea surveillance(hmm, apakah bisa seperti MPA???)

Untuk sistem deteksi pasif dan aktifnya bisa menggunakan inventaris yang sudah ada seperti radar thomson CSF( sekarang Thales Group) dan Plessey serta radar baru Master-T dari Thales Group. Untuk radar sendiri dibedakan menjadi Primary Surveillance Radar(mengirim pulsa yang akan memantul ke badan pesawat dan ditangkap kembali, bisa disebut aktif) dan Secondary Surveillance Radar(menangkap sinyal transponder, bisa disebut pasif). Melihat spesifikasi Master T yang mampu memberikan pendeteksian 3D dengan jarak 440km sebenarnya mampu memberikan pendeteksian yang mumpuni sehingga cocok ditempatkan sebagai early warning di titik-titik terluar asalkan tidak lupa untuk dijaga dengan baik dan diberikan anggaran operasional yang cukup. Untuk sistem pasifnya bisa digunakan ESM(Electronic Support Measurement) yang menguping limbah2 sinyal elektronik (prinsip yang hampir sama digunakan di radar pasif) atau bisa juga menggunakan radar sipil (SSR) dimana di Indonesia memang sudah ada koordinasi antara radar sipil dan militer yang memang bertujuan untuk menutup celah yang belum bisa dicover radar militer (PSR). Kedepannya saya punya harapan supaya jumlah radar bisa ditambah serta anggaran operasional dan perawatan benar-benar diperhatikan sehingga tidak akan ada lagi cerita radar hanya beroperasi selama 8jam sehari dsb dsb. Yang pasti implikasi terhadap pertahanan nasional akan sangat besar kalau radar memiliki jam operasional tertentu.

Kemudian saya ingin membahas konsep layered-nya. Karena saya sudah terlalu banyak menulis di atas langsung saja menuju konsep layered shooter menurut pandangan saya. Pertama-tama dimulai dari lapisan yang paling rendah ketinggian dan jarak jangkaunya yaitu Anti Aircraft Artillery dimana bisa digunakan sistem skyshields dari rheinmetall system atau Giant Bow 23mm, yang terpenting adalah sistem ini mampu memberikan pertahanan udara jarak sangat dekat dan berketinggian target rendah dan tentu saja harus mampu memberikan perlindungan terakhir saat semua lapisan terluar sudah tertembus. Kemudian sistem yang harus dimiliki di lapis selanjutnya adalah SHORAD yang berupas missile,disini kita sudah punya QW-3 dan RBS-70(laser guided) dan Grom serta Igla(Infrared Seeker). Kedua seeker memiliki keunggulan masing-masing dimana laser guided lebih kebal countermeasure karena operator senantiasa mengarahkan laser ke target tetapi memiliki kelemahan operator harus senantiasa mengarahkan, sedangkan infrared guided lebih bersifat fire and forget, tetapi rentan pada countermeasures, mengingat riwayat uji coba Grom yang kurang memuaskan, maka saya pribadi berharap pengadaannya tidak diteruskan, mengganti rapier dengan grom saja menurut saya sebuah kemunduran dari sisi teknologi dan jangkauan.

[Bersambung]

3 comments

  1. dayanaNo Gravatar

    TFS yah^^d

    Visit me jg ya my page

  2. Meidhy AndarestaNo Gravatar

    wah jadi yang pertama ney…

    cuma mw bilang bolee minjam payungnya gak mas?..he..he..

    http://Meidhyandarestablogme.wordpress.com

    1. Prima

      @meidhy wah masalah pinjam meminjam payung silahkan kontak operatornya aja:D

      kontak lanud/arhanud terdekat,,,hehehe

      salam

      @dayana,,,thx 4 visit

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

[+] kaskus emoticons nartzco

Get Adobe Flash player Plugin by wpburn.com wordpress themes